Posted on: August 7, 2022 Posted by: Aulia Reski Comments: 0

Minggu kemarin (31/07) Jakarta Sinfonietta bersama konduktor Iswargia Sudono menggelar sebuah konser yang berjudul ‘Indonesiana’. Konser ini juga menjadi penanda bagi datangnya bulan Agustus yang identik dengan perayaan kemerdekaan Republik Indonesia. Serangkaian karya yang dibawakan dalam konser ini sarat dengan semangat nasionalisme dan kemerdekaan.

Repertoar Pertama: Konserto Piano No. 6 dalam B-flat Mayor

Konser dibuka dengan Konserto Piano No. 6 dalam B-flat Mayor, karya Wolfgang Amadeus Mozart saat ia berusia 20 tahun. Nuansa ceria dan ringan cukup mudah didengar pada konserto ini. Nuansa ini digambarkan dengan baik lewat jari-jari pianis muda, Elnino Mevlana Ibrahim dan alunan Jakarta Sinfonietta. Penampilan Elnino seakan menjadi simbol harapan yang melekat bersamaan dengan kemerdekaan, bahwa masa depan suatu bangsa yang merdeka juga terletak pada tangan generasi muda.

Konserto ini memiliki tiga gerakan (movement) atau ‘bagian’; Allegro aperto, andante un poco adagio, dan rondo – allegro. Allegro aperto sebagai bagian pembuka terdengar cepat dan ceria yang identik dengan nada-nada mayor. Bagian ini dibuka secara megah oleh alunan orkestra yang padu dengan strings yang mendominasi. Tidak lama sesudahnya, piano mengambil alih dan menunjukkan cerita pembukanya lewat nada-nada ceria dan cepat khas Mozart. Secara nama, allegro aperto sendiri berarti tempo cepat (allegro) dan bersifat seperti pembuka (aperto, dari kata aperitif).

Kita hanya perlu menutup mata dan bisa merasakan kalau bagian allegro aperto ini Mozart banget. Kurang lebih begitu kesanku saat dengar gerakan allegro aperto ini. Bagian ini juga entah kenapa mengingatkan aku dengan bagian pembuka dari Konserto Oboe K.314-nya Mozart juga. Mungkin karena struktur komposisi pada bagian pembukanya mirip? Sama-sama dibuka dengan alunan orkestra yang megah dan terdengar ceria, lalu baru diikuti dengan alunan dari solois oboe-nya.

Andante un poco adagio yang mengisi gerakan kedua ini seakan menurunkan ‘tensi’ dari si cepat allegro aperto. Andante berarti tempo yang diibaratkan seperti orang berjalan kaki dengan santai, tapi bukan pelan-pelan dan bukan asal-asalan jalan saja. Tempo ini jelas terdengar saat alunan orkestra membuka gerakan kedua. Sangat kontras dengan gerakan pertama.

Nah, poco adagio yang menambah keterangan tempo ini bermakna bahwa gerakan kedua ini harus dimainkan secara pelan namun penuh ekspresi. Makanya, kita kemudian bisa menemukan dentingan piano yang seperti suara gemericik air. Nada-nada yang terdengar berulang seperti suara gemericik air (kesanku yang dengar nada-nada ini 🥲) ini bisa dibilang nada-nada penghias yang dimaksudkan supaya lebih terasa vibe poco adagio yang ekspresif ini.

Menurutku lho ya, gerakan kedua ini tipe-tipe melodi yang cocok didengar kalau lagi mau minum teh sambil makan finger foods macam lemper ayam, kue mata sapi, nogosaren deh. Ya, bagus deh nambah lagi satu track buat nemenin aku ngemil-ngemil cantik.

Akhirnya, konserto ini ditutup dengan melodi-melodi yang berulang pada rondo – allegro. Gerakan ketiga ini seakan mengajak kamu menari karena ya memang si eyang Mozart yang partyhead ini terinspirasi dari melodi-melodi folk dance. Alih-alih dibuka oleh alunan orkestra, pianis membuka gerakan ketiga ini dengan tempo yang lambat dan kemudian secara bertahap menjadi cepat bersama dengan alunan orkestra. **

Gerakan ketiga ini juga terdengar seperti Mozart yang ingin memberikan highlight bagi soloisnya. Kita bisa mendengar ragam melodi yang luas dan banyak dibandingkan dua gerakan sebelumnya. Berhubung aku duduk di barisan depan, aku lumayan bisa lihat posisi jari-jari pianis selama gerakan ketiga ini. Hats off untuk Elnino karena bisa bawain gerakan ketiga seakan-akan gampang gitu dimainkan (padahal mah… njelimet betul kelihatannya).

Untuk rekomendasi rekaman karya ini, kamu bisa dengar konserto ini yang dimainkan oleh Mitsuko Uchida bersama English Chamber Orchestra yang dipandu oleh Jeffrey Tate.

Repertoar Kedua – Keempat: Rangkaian Puisi Mochtar Embut

Karya-karya puisi Mochtar Embut membuka ‘bagian kedua’ dari agenda ‘Indonesiana’ sore itu. Karya-karya puisi beliau ditampilkan sebagai suatu tembang puitik yang dinyanyikan secara seriosa oleh tenor muda Indonesia, Pharel J. Silaban. Karya pertama yang dibawakan yaitu suita berjudul Puntung Berasap yang terdiri dari tiga karya puisi; Hidup, Jika Kau Tahu, Cita-Cita. Karya kedua berjudul Srikandi. Karya ketiga yang menjadi penutup berjudul Setitik Embun. Di bawah aransemen sang konduktor, Iswargia R. Sudarno, ketiga puisi Mochtar Embut diiringi dengan alunan orkestra yang mendayu dan menyesuaikan larik-larik yang membentuk rangkaian puisi ini menjadi suatu cerita.

Ngomong-ngomong tentang tembang puitik, beberapa komposer klasik memang membudayakan penggunaan karya-karya puisi untuk diorkestrasi. Misalnya, Simfoni No. 2 yang juga dikenal sebagai Simfoni ‘Kebangkitan’ karya Mahler yang menggunakan beberapa larik dari puisi “Die Auferstehung” (terj. Kebangkitan dalam bahasa Jerman) karya Friedrich Gottlieb Klopstock.

Repertoar Kelima: Seruan dari Ujung Barat

Karya ini diciptakan oleh komponis muda Indonesia yang juga seorang violinis bernama Arya Pugala Kitti. Karya ini terinspirasi dari musik dan tarian tradisional Aceh. Musik pada budaya Aceh kaya dengan nada-nada yang sarat dengan inspirasi dari Timur Tengah. Mengingat Aceh yang dahulu hingga kini merupakan pusat perkembangan agama Islam di nusantara, tidak mengherankan untuk mengetahui bahwa musik pun menjadi media dakwah agama Islam yang kaya dengan inspirasi dari akulturasi budaya lokal dan Timur Tengah.

‘Seruan dari Ujung Barat’ memiliki dua bagian. Bagian pembuka merupakan bagian ‘Sambutan’ yang terinspirasi dari langgam pada saat adzan. Melodi-melodi pada bagian ‘Sambutan’ ini terdengar kontras seperti seruan adzan yang berkumandang dari satu masjid dan masjid lainnya. Tutuplah mata dan coba bayangkan sore hari menjelang maghrib di suatu kota kecil di Aceh, kurang lebih begitulah kesan yang aku rasakan saat mendengar ‘Sambutan’. Bagian kedua merupakan bagian ‘Tarian’ yang terinspirasi dari musik tarian tradisional Aceh. Kita bisa mendengar bagian solo dan ansambel yang saling bersahut-sahutan seperti yang biasa kita temukan pada musik pengiring tarian Aceh. Kita juga bisa menemukan penggunaan jentikan jari, tepukan tangan, dan hentakan kaki sebagai media perkusi yang menambah citarasa musik tarian Aceh di tengah-tengah orkestrasi bagian ‘Tarian’.

Repertoar Terakhir: Simfoni Kamar Opus 110a dalam C Minor (Dmitri D. Shostakovich, aransemen Rudolf Barshai)

Karya ini merupakan hasil adaptasi dari Kuartet Gesek No. 8 Op. 110 dalam C Minor (String Quartet No. 8 Op. 110 in C Minor) yang diaransemen oleh Rudolf Barshai pada tahun 1967 dengan persetujuan si empunya karya, Dmitri D. Shostakovich. Rudolf Barshai sendiri merupakan seorang pendiri dan direktur artistik untuk Moscow Chamber Orchestra. Tidak disangka, versi adaptasi dalam format orkestra kamar (chamber orchestra) ini cukup populer dan sering dimainkan. Simfoni ini berdurasi kurang dari setengah jam. Pendengar diajak untuk merasakan kepedihan, penderitaan, hingga kengerian akibat perang dan penindasan. Pemilihan C minor sebagai tema nada untuk simfoni yang memiliki lima gerakan atau bagian ini sangat memudahkan kita sebagai pendengar untuk merasakan apa yang Shostakovich coba sampaikan pada versi aslinya, Kuartet Gesek No. 8.

Gerakan pertama (Largo) dibuka dengan ‘inisial’ nama depan dan belakang Shostakovich dalam ejaan Jerman (DSCH). Nada D – Es (E flat) – C – B natural. B natural ini melambangkan huruf H pada ‘inisial’ atau bisa kita sebut sebagai ‘motif nada’. Penggunaan motif DSCH ini cukup sering kita temukan pada semua gerakan dari simfoni ini. Gerakan pertama yang dibuka dengan motif DSCH dimulai dengan alunan cello, kemudian bergerak ke viola, lalu ke violin. Gradasi motif DSCH yang lambat pada detik-detik awal gerakan pertama ini seakan memberikan spoiler tentang kesan yang mencekam.

Gerakan pertama yang lambat dan perlahan-lahan mencekam ini kemudian diikuti tanpa jeda dengan gerakan kedua yang bertempo sangat cepat (Allegro molto). Peralihan dari gerakan pertama ke kedua tidak terlalu tampak bahkan malah memberikan kesan bahwa keduanya merupakan bagian dari satu kesatuan cerita. Gerakan kedua yang secara tempo memang sangat kontras dengan gerakan pertama masih memiliki elemen nuansa yang sama dengan gerakan pertama, yaitu mencekam. Bedanya, jika kita coba tutup mata dan mencoba membayangkan skenario untuk gerakan kedua ini, maka rasanya ngga berlebihan kalau bagian kedua ini seperti menggambarkan seseorang yang berlari di tengah situasi yang berbahaya pada malam hari. Kurang lebih begitu aku memvisualisasikan gerakan kedua ini.

Tensi pada gerakan ketiga yang bertempo cukup cepat (allegretto) seakan memberi kontras pada gerakan sebelumnya yang sangat cepat. Dibuka dengan nada yang lebih tinggi, gerakan ketiga ini sarat dengan motif nada yang berulang. Kalau gerakan kedua itu kaya dengan nada yang menghentak dan terdengar berat, maka gerakan ketiga ini kaya dengan nada yang lirih, terdengar ringan, namun melengking. Aku memvisualisasikan bagian ketiga ini seperti orang yang berusaha untuk sembunyi atau menghindar dengan perasaan yang berdebar karena takut ketahuan. Akhir dari bagian ketiga terdengar melambat dan seperti memberi kesan/ilusi bahwa kita sudah ada di ujung pelarian. Nyatanya, salah besar. Kita disambut oleh gerakan keempat.

Gerakan keempat yang bertempo lambat (largo) ini dibuka dengan motif nada yang menghentak dalam rentang nada yang lebih rendah dibandingkan gerakan ketiga. Motif nada ini berulang dan terdengar seperti sebuah efek suara yang menambah ketegangan dan diikuti oleh satu nada yang dimainkan secara tunggal oleh concertmaster (pemain violin pertama yang ikut membantu jalannya orkestra, bisa dibilang konduktor kedua). Nada dimainkan seperti suara sinyal yang lama-lama menghilang.

Gerakan kelima yang juga bertempo lambat ini dibuka dengan motif DSCH yang lambat. Gradasi motif DSCH yang lambat juga ditemukan di sini dan dimainkan secara bergantian. Gerakan kelima yang dimaksudkan sebagai bagian penutup secara konsisten terdengar lambat tanpa ada hentakan seperti gerakan keempat. Simfoni kamar ini pun diakhiri dengan alunan orkestra yang perlahan memudar, menuju keheningan. Shostakovich seakan ingin mengingatkan kita semua bahwa apapun tujuan dari perang, penderitaan korban perang akan selalu menjadi akhir.

Seperti yang Shostakovich dedikasikan pada lembar repertoar String Quartet No. 8 yang menjadi dasar aransemen dari simfoni kamar ini, “In the memory of the victims of fascism and war,”.

Untuk rekomendasi rekaman karya ini, kamu bisa dengarkan alunan dari grup orkestra Capella Istropolitana di bawah arahan Pawel Przytocki.

Leave a Comment