Posted on: July 10, 2022 Posted by: Aulia Reski Comments: 0

Aku ngga punya ekspektasi apa-apa saat film ini muncul di beranda Netflix-ku. Aslinya, aku berniat mau nonton Pretty Proofreader sambil menghabiskan makan siangku (dan obat-obatku, yeap I’m still on my 7th day of self-quarantine, thank you Covid-19). Trailernya sendiri ngga cukup menarik tapi entah apa yang menggerakkan jariku untuk akhirnya mengarahkan kursor ke menu “Play”.

Mungkin karena penasaran dengan bagaimana akhir ceritanya?
Mungkin karena pembawaan karakter utamanya yang kesannya ngga kayak sosialita pada umumnya?
Mungkin juga karena Oktober nanti aku berencana mau ke Paris, so to bring the vibe, I thought, why won’t I give this a try?

Secara garis besar, French Exit bercerita tentang kehidupan sosialita Manhattan bernama Frances Price yang sudah lama menjanda dan hidup bersama dengan anak laki-laki semata wayangnya, Malcolm Price. Frances dihadapkan dengan kenyataan dari pengacaranya bahwa ia harus segera menjual segala aset yang masih ia miliki karena aset-aset lain milik suaminya akan diambil alih oleh bank. Dengan kata lain, Frances akan segera mengalami kebangkrutan.

Frances Price, si meong Small Frank, dan Malcolm Price (Sumber: Sony Classics)

Dengan alur cerita yang anehnya terasa lambat dan plot cerita yang kupikir tipikal “riches to rags”, film ini harusnya sudah membuatku bosan dalam 30 menit pertama. Awalnya, aku juga ngga tahu apa yang bikin aku masih menonton ini. Aku sempat menjeda film ini sebentar untuk menghabiskan makananku dan mikir kenapa ya untuk ukuran orang kaya sosialita macam Frances dan Malcolm ini kok karakternya bisa ngga klise macam beberapa film yang pernah kutonton?

Atas dasar rasa penasaranku itu, aku melanjutkan film ini lagi. Frances Price merupakan seorang wanita berusia 60-an dan sudah lama menjanda sejak suaminya meninggal saat Malcolm masih usia sekolah di asrama (sekitaran SMP gitu deh kelihatannya). Hidup Frances sendiri ngga jauh-jauh dari rumor yang menyebutkan bahwa pada saat hari kematian suaminya, Frances ngga segera memanggil paramedis ke rumahnya dan baru melaporkan suaminya meninggal beberapa hari kemudian.

Nah gimana dengan Malcolm? Malcolm sendiri sedari kecil sudah dikirim ke sekolah asrama dan kurang terlalu dekat dengan kedua orang tuanya. Malcolm dijemput oleh Frances (lebih tepatnya ‘dikeluarkan’) dari asrama suatu hari. Sejak saat itu, Malcolm tidak lagi kembali bersekolah di asrama. Bertahun-tahun sejak kematian Franklin (suami Frances, ayah Malcolm), Frances dan Malcolm hidup berdua di rumah besar warisan dari suaminya.

Frances Price di Undangan Pesta Madame Reynard (Sumber: Sony Classics)

Layaknya sosialita pada umumnya, hidup Frances ngga lepas dari satu acara ke acara lainnya. Frances juga sadar kalau dia digosipin sebagai pembunuh suaminya sama sekota New York… heck, maybe a whole world kali ya berhubung si Frances & Franklin ini tuh (mantan) power couple pada masanya. Tapi, dia tetap berusaha tegar atau setidaknya memasang persona seperti itu. Frances sendiri sebagai individu tahu apa yang dia pengen cuma dia kurang bisa membahasakan apa yang dia pengen dengan baik menurut standar orang-orang di sekitarnya. Sikapnya yang blak-blakan justru sering membuat dia dinilai sebagai orang yang kasar bahkan Malcolm sendiri bilang begitu saat mereka berkunjung ke pesta atas undangan Madame Reynard.

Bu Frances tampak santai dengan ‘sisa’ kekayaan gadai aset yang ‘cuma’ 180.000 euro :v (Sumber: Sony Classics)

Nah, tadi kan penggambaran Frances layaknya sosialita. Apa yang ngga layaknya? Untuk ukuran sosialita yang klise macam penggambaran film Hollywood, Frances ngga tampak tamak terhadap segala kekayaannya. Oke, dia memang kaget dan sedih pas tahu kondisi keuangannya terjun drastis. Tapi, Frances ngga sampai histeris, denial, apalagi ngga rela meninggalkan rumah mewahnya. Salah satu adegan yang menunjukkan gimana tenangnya Frances (atau mungkin “Yaudah sih gue ngga peduli lagi”) adalah saat ia dan Malcolm harus meninggalkan pesta terlebih dahulu karena (ngelesnya sih) ada keperluan di rumah yang harus dia urus. Saat menuruni tangga luar menuju jalanan di bawah, tepat di depannya ada semacam private luxury car service (jadi bukan mobil dan supirnya dia gitu). Pas supirnya udah dengan pedenya membuka pintu mobil karena dikira Frances dan Malcolm bakal pakai jasa lux cab-nya, Frances dengan santainya menggandeng Malcolm untuk jalan kaki aja.

Adegan selanjutnya juga bikin aku mikir kalau Frances ini mungkin tipikal orang kaya yang udah ngga peduli lagi dengan kondisi hidupnya karena dia udah di masa tuanya. Saat Frances dan Malcolm jalan kaki melewati taman, mereka distop oleh seorang gelandangan tua yang mengemis uang kecil. Ketimbang langsung kasih uang, Frances nanya uangnya bakal dipakai buat apa. Gelandangannya bilang kalau dikasih uang sebanyak 20 USD, uang segitu bisa buat beli segalon minuman beralkohol dan rokok (dan satu lagi aku lupa apa gitu) di taman. Terus, Frances nimpalin yang kurang lebih gini;

“Oh enak juga ya kamu, minum di taman sambil nanti tiduran memandangi bintang-bintang,”

Gelandangannya cuma bisa kayak apa ya… senyum miris gitu karena ngga tahu mesti nanggapin omongannya Frances yang entah sarkas atau ngga. Akhirnya, Frances kasih uang ke si gelandangan. Gelandangannya pergi dengan tatapan kayak ngga biasa lihat orang kaya (yang aneh) macam Frances ini, tanpa bilang terima kasih. Ngga lama setelah itu, Frances dan Malcolm distop oleh polisi buat ditanyain kondisinya (mungkin dikira dipalakin gitu sama gelandangannya) cuma Frances bilang yang intinya, “Jangan ganggu dia, dia teman kami” sambil merujuk ke si gelandangan itu.

Nah itu tadi dengan Frances. Gimana dengan Malcolm? Si Malcolm bukanlah pribadi yang tampak bisa diandalkan apalagi mengingat kebangkrutan keluarganya yang tampak di ujung mata. Malcolm dalam film digambarkan sebagai laki-laki yang bahkan tidak bisa berjuang mempertahankan orang yang dicintainya. Malcolm juga tidak tampak seperti orang yang memiliki karir gemilang atau setidaknya bekerja. Dengan kata lain, Malcolm tidak tampak menjanjikan sebagai seorang yang dewasa.

Malcolm yang tetap kalem padahal keluarganya otw bangkrut (Sumber: Sony Classics)

Walaupun tidak tampak seperti hubungan ibu-anak yang penuh dengan keakraban dan kasih sayang, ngga perlu usaha yang keras untuk melihat kalau Malcolm yang tampak klemar-klemer itu sebenarnya sosok kuat yang bisa bertahan menemani ibunya di tengah segala tekanan dan cercaan pasca suaminya meninggal. Ini dibuktikan dari Malcolm yang ngga meninggalkan ibunya dengan entah apapun aktivitas tipikal anak-anak orang kaya kebangetan pada umumnya. Malcolm dalam film juga digambarkan tidak memiliki banyak teman bahkan dia pindah ke Paris pun cuma kabarin Susan, si pacarnya, itupun juga sekalian diputusin sama Susan (dan dia nerima-nerima aja, astaga… the real pasrahan 😢).

Baik Frances dan Malcolm tidak menunjukkan sikap histeris ataupun ngga terima dengan kondisi kehidupan barunya di Paris, di apartemen yang ngga setara dengan rumah besarnya. Apartemen ini pun sebenarnya milik Joan, kawan dekat Frances yang menyarankan mereka untuk menempati apartemennya yang kosong. Saat mereka sampai di apartemennya pun, hal yang mereka lakukan hanya memandangi seluruh apartemen kecil milik Joan. Reaksinya bukan yang macam “Kenapa sih hidup kita menderita begini?” atau “Aku ngga bisa hidup kayak begini!”. Nope, ngga ada sekali tuh keluh-mengeluh yang dramatis. Malah, mereka terlihat careless dan “Yaudahlah, ayo kita tinggal di sini”.

French Exit tampak seperti film yang menawarkan jawaban dari pertanyaan,

“Emang kalau masa jaya kita udah lewat, kita mesti gimana? Kita mau ngapain lagi?”.

Kurang lebih itu yang bisa kutangkap secara tersirat dari penggambaran karakter Frances dan Malcolm. Frances berkali-kali bilang dalam film kalau dia pengen meninggal sebelum uangnya habis. Frances bilang begini bukan karena takut dengan kebangkrutannya tapi dia sendiri merasa hidupnya jadi kosong sejak dia dan Franklin mulai menjauh satu sama lainnya. Keberadaan anak pun sebenarnya jadi satu-satunya harapan terakhir yang Frances pikir mungkin akan mengembalikan kedekatan dia dan Franklin begitu juga perasaan mereka satu sama lain. Nyatanya, ngga sama sekali. Jadi, dengan kondisinya yang sudah lanjut usia, menjanda, dan ngga ada lagi yang dikejar dalam hidup ini, Frances ngerasa kalau masa kejayaannya sudah lewat dan dia sudah ada di ujung lorong dari kehidupan gemerlapnya.

Sedangkan, Malcolm sendiri bertahan sebagai figur yang sadar kalau dia ngga bisa ninggalin ibunya begitu aja. Dia dipaksa dewasa sejak remaja dan harus menerima kenyataan kalau kondisi keluarganya emang bukan keluarga yang ideal. Bagi Malcolm, ngga ada yang namanya masa kejayaan itu karena sedari awal dia hidup di tengah keluarga yang disfungsional. Hidup di lingkungan sekolah berasrama sejak kecil dengan teman yang ngga terlalu banyak mungkin juga yang membuat Malcolm jadi pribadi yang tidak terlalu materialistis layaknya (klise) anak-anak orang kaya pada umumnya (di film-film hehe).

Titik balik bagi Frances dan juga Malcolm adalah saat akhirnya Malcolm didatangi oleh Susan dari New York ke apartemen Malcolm di Paris. Susan datang bareng sama pacarnya, Tom, yang ngga terima sama Susan yang mulai ragu menikahinya gara-gara suatu hari Susan ditelfon Malcolm. Jadi, to clear things up, Tom pengen Susan selesain semuanya dengan Malcolm dan tentuin keputusannya. Tom juga pede banget kalau Susan bakal pilih Tom. Tom sendiri kebalikan dari Malcolm yang tampak klemar-klemer dan ngga ambisius. Tom bekerja di perusahaan keuangan dan pribadi yang tampak serius serta logis.

Susan dan Tom jauh-jauh dari New York ke Paris buat ‘nengokin’ Malcolm 😬 (Sumber: Sony Classics)

Salah satu adegan puncak yaitu saat Malcolm diajak adu panco dengan Tom saat mereka semua (Frances, Malcolm, Joan, Madame Reynard, Madeleine, Susan, Tom, dan Detektif sewaan Frances) beres makan malam bareng di apartemen Frances (Joan sih aslinya hehe). Malcolm ngga terlihat berusaha sama sekali, jadi Tom yang menang adu panco itu. Tom ngga terima dan minta Malcolm buat lebih serius. Akhirnya, Malcolm bilang intinya, “Kalau aku menang, kamu dan Susan silahkan pulang,”. Mereka berdua kembali beradu panco dan tampak Malcolm emang ngga niat. Ngga heran tangannya mudah dibanting oleh Tom. Tom yang heran cuma bisa melempar tatapan “Lo serius ngga sih?!” dan dengan nada kesal akhirnya bilang ke Susan untuk segera berkemas.

Adegan sebelum Malcolm adu panco sama Tom, serame inilah apartemen Frances diinapin sama semua orang yang ada di foto ini… serius 😑 (Sumber: Sony Classics)

Malcolm mengakhiri suasana itu dengan bilang bahwa “Ngga ada yang berubah,”. Aku interpretasiin di sini sebagai Malcolm yang paham kalau ngga peduli Malcolm atau Tom yang menang, cuma Susan yang berhak untuk memilih dia mau bertahan dengan siapa. Secara tersirat, aku mulai paham kalau karakter Malcolm tuh bukan pasrahan atau pun klemar-klemer tapi dia ngga mau memaksakan orang lain dengan keinginannya atau mungkin dia ngga suka melihat orang yang dia pedulikan melakukan sesuatu yang ngga sesuai dengan keinginan si orang itu.

Adegan berlanjut saat Malcolm ditonjok di muka oleh Tom sampai terjatuh ke kursi. Tom kesal dengan sikap Susan yang tampak memilih untuk ngga mau pulang ke New York dan tetap di Paris dengan Malcolm. Well… Frances ngga diam aja sih dan kemudian beranjak menampar Tom. Ngga dengan emosi macam “Lo apain anak gue hah?!”, Frances menampar si Tom as if itu hal yang emang pantas buat Tom dapat. Jadi… kayak nampar santai gitu… I don’t know if that makes sense 😐

Frances kemudian melihat gimana Susan khawatir dengan Malcolm. Malcolm juga tampak senang sekaligus berusaha nenangin Susan dengan ngga terlihat kesakitan beres dipukul Tom. Pemandangan Malcolm dan Susan yang terlihat saling menyayangi satu sama lain ini jadi alarm yang menyadarkan Frances kalau pada akhirnya anaknya sudah bisa ketemu dengan bentuk kebahagiaan lainnya. Hal ini juga menyadarkan Frances kalau sekarang dia sudah bisa yakin bahwa anaknya ngga akan kenapa-napa bahkan tanpa dirinya. Dari kacamata penonton, kita bisa lihat Frances tampak lega. Lega bukan karena akhirnya “Gue bisa melepaskan anak gue juga,” tapi lebih ke “Gue bahagia lo bisa ketemu kebahagiaan lo juga,”.

Menuju penghujung akhir film, kita disuguhkan adegan Frances yang sedang cuci piring beres makan malam yang penuh drama dan berakhir tonjok-tonjokan itu. Malcolm yang ikut bantu bersih-bersih meja makan pun deketin ibunya sambil bawain piring-piring kotor. Di sini, kita bisa melihat adegan obrolan terakhir Frances dan Malcolm. Obrolan ini vital untuk keduanya karena Frances akhirnya menceritakan alasan kenapa dia tetap bertahan, kenapa dia memilih untuk mengeluarkan Malcolm dari asrama, dan juga apa arti Malcolm bagi Frances dan Franklin, ayah Malcolm.

Aku memutuskan untuk ngga menulis apa aja alasannya karena aku harap semoga ini menjadi dorongan untuk kamu menonton French Exit. Jujur, alasan-alasannya pun bukan alasan yang grande atau yang life-changing banget sampai bikin terharu gitu sih. Tapi, alasan-alasan ini adalah alasan-alasan yang umum kita temukan sehari-hari. Alasan-alasan yang terdengar manusiawi dan cukup menyadarkan kita kalau…

“Yah hidup manusia itu mau kaya atau miskin bedanya ya cuma di uang, ujung-ujungnya tetap butuh kasih sayang,”.

Adegan ditutup dengan Frances yang keluar dari apartemennya di malam hari dan berjalan menuju gang yang hanya diterangi oleh lampu-lampu berwarna kuning temaram. Frances papasan dengan seorang laki-laki paruh baya yang kemudian nanya mau kemana malam-malam dan Frances jawab kalau dia lagi nyari kucingnya yang hilang. Yeap, dia punya kucing hitam namanya Small Frank. Laki-laki itu nawarin Frances bantuan buat ditemenin cari kucingnya tapi Frances dengan sopan menolak. Adegan berakhir dengan Frances yang balik badan dan berjalan menelusuri gang sambil diikuti seekor kucing hitam. Ngomong-ngomong, si Small Frank ini perannya penting tapi kenapa bisa gitu, nah nonton coba biar plot twist-nya kerasa hehe.

Frances pergi tanpa berpamitan dengan seluruh orang yang tinggal di apartemennya. Keesokan paginya, semua orang menyadari Frances tidak ada di apartemen dan mulai bergegas untuk mencarinya. Malcolm yang tampak diam dan tenang pun digenggam tangannya oleh Susan. Raut muka Malcolm tidak menunjukkan jelas emosi apa yang dia rasakan. Dia tampak sedih, kaget, khawatir namun dia bahkan tidak menunjukkan histeris maupun kepanikan. Seakan-akan Malcolm paham bahwa ibunya mungkin tidak akan kembali lagi.

Film pun berakhir saat semua orang keluar dari apartemen begitu juga dengan Malcolm.

Sejujurnya, aku juga jadi kepikiran sama tema besar dari film ini yang aku baru ngeh saat adegan obrolan Frances dan Joan. Joan kurang lebih bilang gini ke Frances, “Konyol banget ngga sih mau bunuh diri cuma karena masa kejayaanmu udah lewat?”. Frances menimpali kalau bukan karena masa kejayaannya udah lewat, tapi karena dia merasa hidupnya udah mencapai apa yang dia pikir pengen.

Di sini aku jadi mikir, iya ya… apa yang bener-bener bakal aku lakuin di masa tuaku nanti? Apakah aku akan tetap bisa menikmati hidup? Dan menikmati hidup sebagai Aulia di usia lanjut itu bakal seperti apa ya? Apa aku bakal tetap bisa menganggap hal yang kusukai sekarang sebagai sesuatu yang juga enjoyable di usia lanjut nanti?

Gimana kalau aku ngerasa udah melakukan semuanya? Atau gimana kalau di suatu titik dalam hidupku entah di masa usia lanjutku atau malah mungkin ‘sekarang’, aku merasa udah mencapai apa yang ingin aku capai?

Kalau aku pada akhirnya sampai di ujung dari lorong perjalananku, sampai di tujuanku, tapi aku masih hidup atau ya… masih ada kehidupan yang cukup panjang di depanku, apa lagi yang mesti aku lakuin?

Aku yakin kalau aku di masa sekarang akan menjawab dengan hal yang kupikir bakal jadi hal yang aku inginkan dan cocok untuk aku. Tapi, ngga ada yang bisa menjamin kalau aku di masa depan masih akan menginginkan hal yang sama, kan?

Setidaknya, kalau pun memang harus pergi, aku ngga bakal pergi dengan penyesalan karena ngga mencoba apapun yang aku pengen, sebaik dan semaksimal mungkin, selama aku hidup.

And yes, cherish your friendship like Frances & Joan’s friendship (Sumber: Sony Classics)

 

[Major Trivia]

  1. Sebenernya kita udah bisa menebak kemungkinan akhir dari cerita ini hanya dari judul filmnya, French Exit. French exit sendiri adalah ungkapan untuk menggambarkan suatu tindakan dimana seseorang pergi tanpa pamit. Well… french exit sendiri tindakan yang ngga sopan sih. Udah kayak irish goodbye yang ngga jauh beda dengan ghosting.
  2. Nama ‘Frances’ sendiri punya makna dasar dalam bahasa Latin sebagai “(orang) dari daratan Prancis” atau “(orang) yang bebas”. Dalam film, Frances cerita kalau saat dia mengunjungi Prancis pas bulan madu sama Franklin, dia dapat semacam feeling kalau dia bakal meninggal di Paris. Frances sendiri juga orang yang hidup bebas dan ngga pernah sama sekali capek-capek bekerja berhubung dia menikah dengan suaminya yang sekaya itu.
  3. Joan digambarkan sebagai teman terdekat dan paling lama yang ada di hidup Frances. Joan ngga meninggalkan Frances bahkan saat Frances bangkrut. Joan menawarkan Frances untuk tinggal di apartemennya yang ngga ditempati di Paris. Joan juga jadi orang yang Frances tulisi surat untuk meminta mengurus dan menitipkan Malcolm semisal Frances akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Well… nama Joan sendiri di Prancis akrab dikaitkan dengan Joan d’Arc, pahlawan perang wanita dari Prancis yang berkontribusi pada naik takhtanya Charles VII.
  4. Malcolm digambarkan selalu memakai setelan jas lengkap bahkan saat di apartemen. Ngga tahu sih ini simbolisme apa, tapi setelan jasnya kurang lebih sama. Ketimbang aneh karena ngga kayak realistis aja gitu, entah kenapa kerasa cocok aja dengan penggambaran karakter Malcolm yang hidup bagai dalam sangkar emas dan pintunya kebuka tapi dia ngga mau keluar sama sekali.

Leave a Comment