Pilihan Untuk Melangkah dalam Jangka Waktu Hidup Kita yang Terbatas

Tahun 2020 mengajarkan banyak hal bagi saya. Resilien adalah salah satu sikap yang benar-benar terlatih selama tahun kemarin. Dalam ketidakpastian yang rasanya seperti lorong gelap, cita-cita, mimpi, dan harapan saya rasanya seperti bermanifestasi menjadi suluh untuk berjalan dalam lorong itu. Cahaya benderang yang dijaga nyalanya supaya tidak redup.

Kadang, saya merasa “Mungkin ngga ya dalam lifetime-ku ini apa yang jadi pertanyaanku bakal terjawab?”. Saya sadar bahwa apa yang ingin saya realisasikan dalam penelitian untuk jenjang pendidikan lanjutan saya nanti adalah hal yang cukup menantang dan mungkin membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Tapi, saya juga sadar kalau hal itu tidak semestinya menjadi alasan saya untuk gentar dan berkecil hati.

Paradoks yang saya temui adalah semakin saya belajar, semakin saya tidak tahu. Setiap hal yang saya pahami tidak ubahnya seperti puncak dari gunung es yang terapung di samudra. Saya tidak tahu sebesar apa bagian gunung es yang terendam di samudra yang dalam.

Dengan kata lain, kenyataan bahwa ada ketidaktahuan yang tidak saya ketahui terasa lebih mengerikan. Apalagi, ketika saya menyadari betapa terbatasnya waktu hidup seorang manusia. Betapa jauhnya jarak yang harus ditempuh untuk menjawab keingintahuan. Bangku perkuliahan pun tidak pernah mengajarkan kita untuk mengatasi bentuk ‘kecemasan’ dari ketidaktahuan tersebut.

Dan dalam jangka waktu hidup seorang manusia yang terbatas, bisakah saya menjawab keingintahuan saya, mendedikasikan hidup saya untuk hal-hal yang lebih besar dari sekedar keinginan pribadi?

Apakah saya akan sampai pada tujuan tersebut?

Dua tahun lalu, saya masih bisa menikmati akhir pekan dengan photohunting, berkunjung entah itu ke kebun raya atau pun museum. Siapa sangka foto yang saya ambil saat kunjungan impulsif saya ke Museum Nasional pada akhir Desember 2019 menjadi salah satu personal reminder yang mengena.

Ku Yakin Sampai Di Sana
“Ku Yakin Sampai Di Sana” Karya Nyoman Nuarta

“Ku Yakin Sampai Di Sana” adalah nama dari patung tersebut. Patung yang menggambarkan manusia-manusia yang bergerak dengan kepala yang tetap tegak mengarah ke ujung yang bercahaya dalam lorong pusaran.

Tampak Belakang dari Karya “Ku Yakin Sampai Di Sana”

Sejauh dan seterjal apapun jalannya, selama pandangan saya tetap menatap tanpa ragu menuju akhir dari tujuan saya, saya akan sampai di sana… pada hal-hal yang menjawab pertanyaan dan pencarian saya melalui penelitian yang dilakukan. Bisa jadi pertanyaan saya tidak sepenuhnya terjawab dalam rentang waktu hidup saya, namun terjawab pada generasi setelah saya. Tapi, setidaknya ‘tongkat estafet’ ini tidak akan berhenti pada tangan saya.

Saya harap teman-teman yang membaca ini pun juga begitu.

 

Kita akan sampai pada tujuan kita masing-masing suatu saat nanti. Pasti.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *