Bapak dan Bakatnya

Selamat harinya Bapak!

 

‘Kesamaan’ yang aku dan Mama miliki adalah memiliki ayah yang pandai menggambar. Kakek, ayahnya Mama (obviously, haha), pintar melukis. Bapakku sendiri pandai membuat sketsa langsung dari apapun yang dilihat. Bapakku juga jago memasak. Jadi, mungkin itu sebabnya Kakekku menerima Bapak sebagai menantunya? Hahaha. 

Banyak yang bilang kalau bakat itu sesuatu yang sifatnya bawaan. Bagaimana bakat itu akan berkembang biasanya akan tergantung dari apakah seseorang tersebut menyadari potensi bakatnya dan mengasah bakatnya atau tidak. Aku rasa Bapak jatuh ke dalam kategori orang yang tidak menyadari potensi bakatnya namun secara ‘kebetulan’ mengasah bakatnya tanpa dia sadari.

Salah satu hal yang mungkin menyebabkan Bapak tidak menyadari potensi bakatnya adalah kondisi keluarga Bapak. Bapak ‘kecil’ hidup dalam keluarga yang pas-pasan. Bapak tidak memiliki privilese seperti kami, anak-anaknya, untuk mengeksplor hal-hal yang digemari apalagi mengembangkan hobi. Tapi, Bapak juga pernah bilang kalau kerasnya hidup saat itu yang membentuk Bapak menjadi Bapak yang sekarang dengan keahlian yang Bapak punya.

Keluarga Bapak saat itu tinggal di kawasan Demak Ijo yang sampai saat ini masih lumayan cukup rimbun. Waktu itu, Bapak setiap subuh selalu pergi ke blumbang untuk mandi dan bersiap-siap ke sekolah dengan berjalan kaki. Jarak dari rumah Bapak ke sekolah Bapak, SD Tarakanita, jauh sekali kalau ditempuh dengan berjalan kaki tapi saat itu terlalu mahal bagi Bapak untuk naik becak apalagi beli sepeda. Bapak yang memilih untuk berjalan kaki pagi-pagi sekali jadi terbiasa dengan riuhnya kokok ayam dan kicauan burung. Pagi saat pergi atau siang saat pulang sekolah jadi waktu Bapak untuk melihat-lihat apa saja di sekitar Bapak saat itu. Bisa dibilang itu waktu luang Bapak karena Bapak biasanya akan bantu kakak perempuannya, Budhe Inti, untuk berdagang gorengan dan kue basah.

Bukan hal yang aneh bagi Bapak saat itu untuk ikut ke dapur karena ibunya Bapak sudah wafat saat masih kecil, jadi Bapak memang ‘didorong’ oleh kondisi harus bisa mandiri dan mengurus rumah sementara ayahnya dan kakak-kakaknya bekerja. Di sisi lain, Bapak yang terbiasa memasak jadi menikmati kegiatan masak-memasak ini. Bagi Bapak, memasak jadi waktunya untuk beristirahat sejenak sebelum membantu kakaknya berjualan.

Keseharian yang seperti itu akhirnya melatih bakat Bapak. Bapak suka mengamati hewan-hewan di sekitarnya, ayam-ayam peliharaan tetangga yang suka masuk halaman rumah Bapak, burung-burung yang suka bertengger di pepohonan rambutan depan halaman, sampai ikan-ikan yang ada di kolam dekat blumbang. Dulu, kamera tentu saja masih jadi barang yang mahal sekali. Jadi, Bapak cuma bisa menuangkan pengamatannya ke atas kertas-kertas bekas. Karena kertas dan pensil harus dihemat, Bapak biasanya mensketsa hewan-hewan yang benar-benar eye-catching.

Lain halnya dengan memasak, Bapak tidak perlu ‘berhemat’ untuk urusan memasak karena beberapa sayuran ditanam di pekarangan rumah. Kadang, Bapak dan saudaranya pergi ke hutan bambu di dekat rumahnya untuk cari bamboo shoots atau sekedar memancing ikan di sungai dekat hutan bambu. Bapak tidak hanya masak di rumahnya tapi juga ikut masak di rumah salah satu tetangga. Jadi, tetangga Bapak ini punya rumah dengan dapur terbuka yang luas banget dan sering jadi semacam apa ya communal space untuk warga sekitarnya. Itu lho semacam ibu-ibu ngumpul buat masak-masak. Karena Bapak jago masak, Bapak sering diajak ibu-ibu untuk masak bareng. Alhasil, Bapak jadi terlatih memasak (foraging dan juga mancing hehe) karena banyak sekali bahan yang mudah didapat dan keseringan masak.

Ulang tahun Bapak biasanya jadi momen kami sekeluarga untuk makan masakannya Bapak. Ya, sebenarnya tidak harus menunggu Bapak berulang tahun juga sih, tapi biasanya Bapak bakal announce “Bapak mau masak ini, Mama tolong siap-siap ke pasar beliin bahannya ya,” yang kemudian akan dibalas Mama, “Yaudah, coba sini uangnya mana,” hahaha. Masakan Bapak sendiri cenderung ke rasa manis gurih. Tipe-tipe umami Jepang yang bumbunya mild. Beda sekali dengan masakan Mama yang sama-sama gurih tapi bumbu-bumbunya strong dan distinct sekali rasanya. Yin dan yang sekali.

Karakter rasa masakan Bapak yang ‘kalem’ itu memang pada akhirnya mengingatkan tentang keseharian Bapak waktu masih kecil. Di balik rasa yang lembut dan ringan itu, ada kenyataan bahwa Bapak memang tidak memiliki banyak akses untuk membeli bumbu-bumbu mahal. Toh, nyatanya masakan Bapak terasa enak karena Bapak tidak berhenti melakukan apa yang Bapak senangi.

Semua orang berbakat.

Tinggal, bagaimana kita memahami bakat kita dan seberapa konsisten kita mengasahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *