Saudade

Va’, pensiero, sull’ali dorate;

Va, ti posa sui clivi, sui colli,
ove olezzano tepide e molli
l’aure dolci del suolo natal!

Giuseppe Verdi – ‘Chorus of Hebrew Slaves’ dari Opera Nabucco
(Esai Foto 29 Januari 2020 @ Instagram)

Salah satu dari sekian hal yang membedakan manusia dibandingkan spesies lainnya adalah kecerdasan emosional. Bukan berarti spesies lain di kingdom animalia tidak punya kecerdasan emosional ya. Tapi, kecerdasan emosional kita yang kompleks membuat kita mampu untuk mengenali perasaan orang lain.

Terbanglah anganku pada sayap-sayap emas;
pergi dan menetaplah di atas lereng-lereng dan bukit-bukit
dimana angin yang lembut dan manis
tercium harum dari tanah kelahiranku.

(Terjemahan dari Chorus of Hebrew Slaves)

Dalam sejarah umat manusia, kita semua punya semacam kesadaran kolektif untuk berempati terhadap kondisi orang lain yang memiliki kesamaan identitas dengan kita. Kesamaan identitas ini bisa digolongkan ke dalam banyak hal seperti suku, bangsa, agama, ideologi politik, dan lain-lain. Contohnya, kesedihan yang sama-sama dirasakan orang-orang sebangsa ketika mereka mengenang para pahlawan di medan perang. Dalam contoh lagu di atas, kesadaran kolektif tersebut diwujudkan dalam bentuk kerinduan terhadap tempat yang menjadi ‘rumah’ bagi para budak tersebut, yaitu tanah kelahiran mereka.

Kesadaran kolektif untuk berempati antar sesama ini pun juga dapat diwujudkan dalam perilaku altruistik seperti perilaku saling tolong-menolong dan rela berkorban demi orang lain. Dalam buku Gen Egois (The Selfish Gene), Richard Dawkins menjelaskan bahwa karakter altruis muncul sebagai konsekuensi untuk mempertahankan eksistensi spesies, yang kemudian diperjelas kembali oleh Dawkins menjadi eksistensi sekumpulan gen agar selalu ‘lestari’. Secara pribadi, aku ingin menganggap bahwa sebenarnya karakter altruis yang secara potensial tertanam dalam diri kita ini dapat dikembangkan menjadi tidak hanya sekedar kesadaran kolektif yang hanya dibatasi oleh identitas-identitas yang sempit.

Dalam penggalan Lagu Para Budak Yahudi, kesadaran kolektif mereka atas penderitaan kaumnya yang mengalami perbudakan mendorong mereka untuk saling berempati satu sama lain. Sejarah perbudakan, keterusiran mereka dari apa yang mereka klaim sebagai tanah kelahiran, hingga holocaust yang dialami oleh bangsa Yahudi pada rezim Nazi menjadi rekam jejak yang kelam dan pedih bagi bangsa Yahudi. Sangat pedih hingga mendorong mereka untuk memperjuangkan apa yang yakini sebagai tanah kelahirannya, Israel.

Dengan motif yang sama, bisakah keturunannya, generasi Yahudi saat ini, kembali mengingat penderitaan tersebut dan memikirkan bagaimana kepedihan juga dirasakan oleh para penduduk di daerah konflik antara Israel dan Palestina?

Our posturings, our imagined self-importance, the delusion that we have some privileged position in the Universe, are challenged by this point of pale light.

Our planet is a lonely speck in the great enveloping cosmic dark. In our obscurity, in all this vastness, there is no hint that help will come from elsewhere to save us from ourselves.

Carl Sagan – A Pale Blue Dot: A Vision of The Human Future in Space

Bisakah kita semua, umat manusia yang seharusnya dan sejatinya tidak terkotak-kotakkan oleh perbedaan identitas-identitas yang ada, memiliki kesadaran kolektif untuk saling berempati satu sama lain untuk tujuan yang lebih besar?

Sampai jumpa pada tulisan selanjutnya, ya!

Salam,
Aulia 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *